Basin Performance Statistic
Sejak dimulainya kegiatan eksplorasi pada pertengahan 1930-an oleh Standard Oil Company of California dan The Texas Company, Cekungan Sumatera Tengah telah berkembang menjadi salah satu penghasil hidrokarbon utama di Indonesia. Hingga tahun 2020, sebanyak 510 sumur eksplorasi telah dibor, menghasilkan sekitar 190 penemuan, dengan estimasi total sumber daya mencapai 30 BBOE berdasarkan data Chevron Pacific Indonesia dan IHS Markit (2015)
Pada dasarnya, data seismik yang kita dapatkan dari survei eksplorasi masih berupa refleksi gelombang yang menunjukkan perbedaan impedansi akustik antar lapisan batuan. Seismic Inversion membantu mengubah data ini menjadi gambaran bawah permukaan yang lebih informatif, sehingga mempermudah proses pengambilan keputusan dalam eksplorasi energi.
Berdasarkan data statistik hingga tahun 2020 yang diperoleh dari IHS Markit, distribusi ukuran cadangan di Sumatera Tengah menunjukkan bahwa dari total 190 penemuan lapangan, mayoritas akumulasi berada pada skala kecil hingga menengah. Lebih dari 80 lapangan minyak dan gas memiliki cadangan dalam kisaran 1–5 MMBOE, diikuti oleh lebih dari 50 lapangan dengan cadangan kurang dari 1 MMBOE. Sementara itu, hanya sebagian kecil lapangan yang memiliki cadangan antara 5–25 MMBOE, dan sangat terbatas jumlah lapangan berukuran besar dengan cadangan di atas 500 MMBOE, yaitu kurang dari 10 lapangan.
Di sisi lain, berdasarkan kategori OOIP (Original Oil in Place), tercatat sekitar 43 lapangan minyak dan gas dengan sumber daya lebih dari 80 MMBOE. Distribusi lapangan-lapangan berukuran besar ini cenderung terlokalisasi pada area tertentu yang berdekatan dengan kitchen area yang telah terbukti, mencerminkan kontrol sistem petroleum yang kuat terhadap akumulasi hidrokarbon skala besar di wilayah tersebut.
Penemuan awal lapangan raksasa seperti Duri Field dan Minas Field diikuti oleh temuan lapangan lain hingga akhir 1950-an, kemudian memasuki fase eksplorasi kritis pada 1960–awal 1970-an akibat rendahnya penemuan.
Cadangan Kumulatif Pematang Play
Berdasarkan grafik, produksi kumulatif dari play Pematang masih menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, sehingga dapat dikategorikan berada pada fase emerging. Persebaran lapangan mengindikasikan bahwa penemuan hidrokarbon masih terkonsentrasi di area sentral serta Graben Bengkalis Utara. Oleh karena itu, aktivitas eksplorasi yang menargetkan play Pematang perlu terus ditingkatkan, mengingat secara statistik play ini masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan kumulatif produksi melalui tambahan kegiatan pengeboran.
Cadangan Kumulatif Sihapas Play
Play Sihapas merupakan kontributor terbesar terhadap kumulatif produksi hidrokarbon di Cekungan Sumatera Tengah. Berdasarkan grafik, play ini telah memasuki fase plateau, sehingga diperlukan pengembangan tipe trap baru pada interval yang sudah terbukti maupun konsep play baru untuk meningkatkan produksi.
Secara statistik, trap struktural mendominasi dengan kontribusi sekitar 96%, namun tren kumulatif baik pada trap struktural maupun kombinasi menunjukkan kecenderungan mulai flattening. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi kembali prospek dry well yang berpotensi belum teridentifikasi, terutama yang dipengaruhi oleh faktor-faktor operasional saat pengeboran.
Cadangan Kumulatif Telisa Play
Play Telisa menyumbang sekitar 16,3% dari total kumulatif produksi hidrokarbon di Cekungan Sumatera Tengah, atau sekitar 2,610 MMBOE. Berdasarkan jenis trap, kombinasi structural-stratigraphic pada play ini relatif lebih dominan dibandingkan play lainnya, yang dikontrol oleh karakter reservoir berupa shaly sand dengan geometri yang terlokalisasi sehingga mendukung terbentuknya stratigraphic trap.
Penemuan signifikan terakhir terjadi pada 1970-an melalui lapangan seperti Bangko Field, Balam South Field, dan Kulin Field. Sejak itu, kurva kumulatif menunjukkan tren flattening meskipun masih terdapat penemuan lapangan seperti Lindai, Petapahan, Benar, dan Pager.
Cadangan Kumulatif Petani Play
Penemuan signifikan terakhir pada play ini adalah lapangan Segat Field pada pertengahan 1990-an. Sejak itu, kurva kumulatif menunjukkan tren emerging dengan tambahan penemuan seperti Kue Kecil Field dan Langite Field.
Reservoir pada Petani Play umumnya berupa isolated sand yang mengandung gas biogenik maupun termogenik, dengan dominasi gas biogenik. Persebaran lapangan masih terkonsentrasi di area tengah, sehingga peluang eksplorasi di area lain masih terbuka. Hasil analisis juga menunjukkan indikasi kuat keberadaan gas biogenik dari aspek petrofisik, geofisika, dan geokimia. Oleh karena itu, diperlukan kajian ulang pada area prospektif untuk meningkatkan keyakinan terhadap potensi penambahan kumulatif produksi pada play ini.





